Kesedihan adalah sahabat tersetia kedua setelah Tuhan.
Ia selalu duduk manis di beranda rumah dengan sabar,
lalu berangsur menguasaiku kelak di atas jam 22.
Dan pada dasarnya aku memanjakannya,
memupuk egoisme dalamnya,
membiarkannya menang dengan sendirinya.
Di pertengahan bulan Mei,
laki-laki itu muncul dan kesedihan pamit pulang.
dengar baik-baik, sayang.
--karena mungkin sekali saja kau dengar:
"Aku bahagia denganmu.
Denganmu, aku bahagia.
Aku, denganmu, bahagia.
Bahagia aku denganmu!
Bahagia denganmu, aku."
Ya, pada dasarnya bodoh dalam hal cinta,
kata-kata bahagia adalah kemutlakan dari percuma.
Karena di pertengahan bulan Juli,
kutemukan lagi sahabat tersetia keduaku setelah Tuhan,
duduk manis di beranda rumah sambil tersungging kecil.
"Selamat pulang ke rumah."
No comments:
Post a Comment