Langit dan angin seringkali jadi guyonan kita berdua;
"aku titipkan salam untukmu di langit,
sampaikah sudah?"
"peluk hangatku untukmu kusampaikan lewat angin,
aku yakin kamu pakai jaket."
"sinyalku buruk, tengok-tengok langit ya.
Siapa tahu aku menitip rindu padanya buatmu."
"sebentar--kutitipkan salamku pada langit untukmu,
jangan lupa mengintipnya jika aku tidak ada."
---
Dan belum seharipun sejak kita tidak lagi ada,
aku berhenti menatap langit.
Berharap kecil masih ada pesan yang dikirim dari kamar seberang tangga.
No comments:
Post a Comment