Masa lalu punya ruangannya sendiri.
Aku bersumpah; "Ia selalu kukunci!"
Sambil mengangkat gelasku tinggi,
aku memaki masa lalu enyah jangan kembali.
Mereka terkekeh sambil menggeleng,
"Sepandai-pandainya kunci yang sembunyi,
kau akan kembali dan membebaskannya sekali lagi!"
Dengan pipi merah, dan mata menyipit.
Aku tertawa lebar, karena mereka selalu benar.
Teman-temanku selalu benar.
Kumpulan perasaan yang dikemas dalam perjalanan entah kemana; di kereta; di kamar tidur; dan di hati seseorang.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Biarkan Aku Tidur
Aku baru kehilangan ayahku di hari sabtu. Dan pagi ini ada keharusan kehilanganmu. Amarah dan kesedihan campur aduk, Bawah-atas, gigi rah...
-
Sayang, mengapa kamu kembali? Menyapa di sela-sela lupaku. Mengupas kembali yang dulu hilang. Membuka kembali luka yang belum kering. J...
-
Aku menahan nafasku di sela-sela maki yang tidak ingin ku dengar, membiarkan kepalaku saja yang bertanya-tanya; kata-kata apa lagi yang m...
-
Langit dan angin seringkali jadi guyonan kita berdua; "aku titipkan salam untukmu di langit, sampaikah sudah?" "peluk ha...
No comments:
Post a Comment