Aku telah merelakannya di antara daun-daun gugur.
Melebur dengan tanah, bersama harapan yang tak lagi subur.
Sedih dan sepi ikut pergi,
menolak menengok lagi.
Senyumku muncul kali ini.
Sadar, lainnya yang kusayangi masih mengelilingi.
Tiba-tiba hangat penuhi diri,
dan sekali lagi aku punya hati.
Setidaknya sampai salah satu temannya
yang tak dekat, yang baru kukenal bertanya:
"Kalau kamu dengannya,
apa kabar dengan Cinta?"
Aku tertegun.
Ya, maafkan eksistensiku yang hanya seluas asramamu.
Kumpulan perasaan yang dikemas dalam perjalanan entah kemana; di kereta; di kamar tidur; dan di hati seseorang.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Biarkan Aku Tidur
Aku baru kehilangan ayahku di hari sabtu. Dan pagi ini ada keharusan kehilanganmu. Amarah dan kesedihan campur aduk, Bawah-atas, gigi rah...
-
Jam lima tiga puluh sore hari, rintik hujan kian buatku merenung. Yang membesit adalah tangisku yang pecah di pelukmu, dan yang membe...
-
Langit dan angin seringkali jadi guyonan kita berdua; "aku titipkan salam untukmu di langit, sampaikah sudah?" "peluk ha...
-
Aku sayang kamu. Terdengar dangkal, dan mungkin memang dangkal. Tapi biarkanlah aku bicara, sesekali. Aku sayang kamu, Seperti ombak ci...
No comments:
Post a Comment