Hari ini juga ia terlihat baik-baik saja.
Senyum lebar, lagak tegar.
Tidak hanya sekali kutemuinya di sudut-sudut ruang
membakar linting tembakaunya sambil memperdengarkan tawanya yang menggelegar.
Namun pernah sekali,
dulu,
dulu sekali,
ia bilang;
"Pura-pura adalah keahlianku yang utama."
Kumpulan perasaan yang dikemas dalam perjalanan entah kemana; di kereta; di kamar tidur; dan di hati seseorang.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Biarkan Aku Tidur
Aku baru kehilangan ayahku di hari sabtu. Dan pagi ini ada keharusan kehilanganmu. Amarah dan kesedihan campur aduk, Bawah-atas, gigi rah...
-
Jam lima tiga puluh sore hari, rintik hujan kian buatku merenung. Yang membesit adalah tangisku yang pecah di pelukmu, dan yang membe...
-
Langit dan angin seringkali jadi guyonan kita berdua; "aku titipkan salam untukmu di langit, sampaikah sudah?" "peluk ha...
-
Aku sayang kamu. Terdengar dangkal, dan mungkin memang dangkal. Tapi biarkanlah aku bicara, sesekali. Aku sayang kamu, Seperti ombak ci...
No comments:
Post a Comment