Aku menempelkan ujung hidungku pada pergelangan tangan kiriku pagi ini.
Aku merindukanmu.
Batinku masih memeluk guling di bawah selimut kotak-kotakku yang tipis.
Sayang, harummu yang kusemprotkan kemarin tanpa tahu malu di minimarket dekat rumah sudah pergi. Yang menyisa cuma wangi sabun mandiku yang baru kubeli.
Wanginya yang terbenam semalaman,
hanya kuhirup kadang-kadang pula itu juga dengan ketakutan
--dan keraguan.
Aku takut kalau kuhirup dalam-dalam,
kerinduan akan nyaman.
Aku akan lelap dengan harapan terbangun melihatmu yang kembali terjaga menatap langit-langit pada jam 3 dini hari sambil melipat tangan di balik kepala,
lalu kuutarakan pertanyaan yang sama;
"kenapa kamu belum tidur?"
berurut ketakutanmu tak bangun, lemparan senyuman,
putaran badan dan pelukan yang waktu itu kukenakan.
namun malahan terbangun dengan kekecewaan pada air muka
di pantulan kaca yang juga bingung mau bilang apa
karena memang kita juga tidak lagi ada.
Aku mencoba memenggal keraguan dan percaya saja pada kewarasan,
karena tidak mungkin kan aku tiba-tiba berlari padamu lalu mempertanyakan;
apakah cinta juga masih kau peluk di sana?
Kumpulan perasaan yang dikemas dalam perjalanan entah kemana; di kereta; di kamar tidur; dan di hati seseorang.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Biarkan Aku Tidur
Aku baru kehilangan ayahku di hari sabtu. Dan pagi ini ada keharusan kehilanganmu. Amarah dan kesedihan campur aduk, Bawah-atas, gigi rah...
-
Sayang, mengapa kamu kembali? Menyapa di sela-sela lupaku. Mengupas kembali yang dulu hilang. Membuka kembali luka yang belum kering. J...
-
Aku menahan nafasku di sela-sela maki yang tidak ingin ku dengar, membiarkan kepalaku saja yang bertanya-tanya; kata-kata apa lagi yang m...
-
Langit dan angin seringkali jadi guyonan kita berdua; "aku titipkan salam untukmu di langit, sampaikah sudah?" "peluk ha...
No comments:
Post a Comment